Kamis, 21 Maret 2013

Pengaruh Akidah Dalam Kehidupan


2012 PENGARUH AKIDAH DALAM KEHIDUPAN

Oleh: Drs. H. Syamsyul Arifin Nababan

Pendahuluan
Salah satu elemen penting dalam ajaran Islam adalah akidah. Ajaran ini merupakan persoalan mendasar yang harus diyakini seorang Muslim sebelum ajaran-ajaran lainnya. Ibarat tali kekang, akidah mengendalikan seorang Muslim agar tidak berjalan tanpa arah yang jelas. Sebaliknya, akidah akan mengarahkan seorang Muslim menuju satu tujuan yang dicita-citakan. Terminal dari akidah adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak hanya ajaran yang bersifat normatif, akidah juga memberikan efek positif dalam kehidupan seorang Muslim. Oleh sebab itu, tulisan ini menguraikan bagaimana akidah memberi pengaruh dalam kehidupan seorang Muslim.

Pengertian Akidah
Secara bahasa aqidah berasal dari kata aqdun - aqo'id  yang berarti aqad atau ikatan. Maksudnya yaitu ikatan yang mengikat manusia dengan aturan-aturan Allah Swt dan nilai-nilai Islam. Sedangkan secara istilah aqidah adalah sesuatu yang wajib diyakini atau diimani tanpa keraguan, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan sehari-hari. Aqidah merupakan motor penggerak dan otak dalam kehidupan manusia. Apabila terjadi sedikit penyimpangan padanya, maka menimbulkan penyelewengan dari jalan yang lurus pada gerakan dan langkah yang dihasilkan.
Aqidah bagaikan pondasi bangunan. Aqidah harus dirancang dan dibangun terlebih dahulu sebelum merancang dan membangun bagian yang lain. Kualitas pondasi yang dibangun akan berpengaruh terhadap kualitas bangunan yang ditegakkan. Bangunan yang ingin dibangun itu sendiri adalah Islam yang sempurna (kamil),  menyeluruh (syamil),  dan benar (shahih). Aqidah merupakan misi dakwah yang dibawa oleh Rasul Allah Swt yang pertama sampai dengan yang terakhir. Aqidah tidak berubah-ubah karena pergantian zaman dan tempat, atau karena perbedaan golongan atau masyarakat. Allah berfirman dalam Surah Asy Syura/ 42: 13  sebagai berikut:
 شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13
"Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu  tegakkanlah agama (keimanan dan ketaqwaan) dan janganlah kamu berselisih di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Ia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petujuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)". (Q.S. Asy Syura [42]: 13 )
Ada beberapa istilah yang kelihatannya sama, namun sesungguhnya secara khusus berbeda dengan akidah, yaitu; tauhid dan iman. Secara istilah keduanya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tauhid
Tauhid diperlukan dalam memahami aqidah. Kata tauhid berasal dari kata wahhada yang berarti menjadikan satu. Tauhidullah -atau upaya mentauhidkan Allah Swt- merupakan dasar iman kepada Allah Swt. Setiap Muslim wajib menghayati hakikat tauhid yang diperintahkan Allah Swt. karena hal itu merupakan landasan agama-Nya. Penerimaan tauhid menjadi penyebab keselamatan hidup manusia di dunia dan di akhirat dan mendapatkan imbalan surga.
Ada tiga klasifikasi tauhid yang harus diyakini dan dimiliki oleh seorang Muslim yaitu:
a. Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt. satu-satunya pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara, dan penguasa seluruh urusan makhluk dan alam, baik dalam menghidupkan, mematikan serta urusan taqdir dan hukum alam lainnya. Konsekuensinya adalah adanya kerelaan untuk mau diatur oleh Allah Swt dalam seluruh aspek kehidupan.
Pada hakekatnya Tauhid Rububiyah menuntut adanya Tauhid Uluhiyah. Keyakinan terhadap Tauhid Rububiyah saja dan bahkan sengaja membuat aturan menentang serta membuat tandingan selain Allah Swt., mengakibatkan tauhid ini tidak memberi manfaat sedikitpun. Bahkan hal itu akan mengantarkan seseorang  pada wilayah kemusyrikan. Allah berfirman dalam Surah Yunus/ 10: 106 sebagai berikut:
 وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (Q.S. Yunus [10]: 106)
b.  Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah ialah keyakinan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya yang disembah, mengesakan Allah swt dalam peribadatan, penghambaan, kepatuhan, kecintaan, ketakutan, dan ketaatan secara mutlak. Tidak menghambakan diri kepada selain Allah Swt dan tidak pula mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
 c. Tauhid Asma' Wa Sifat
Tauhid Asma' Wa Sifat ialah keyakinan bahwa Allah Swt memiliki 99 asmaul husna (nama-nama dan sifat-sifat yang agung) yang tidak dimiliki oleh selain-Nya. Laysa kamitslihi syay-un, tidak ada sesuatupun yang memiliki-Nya dan menyerupai-Nya.

2. Iman
Hakikat iman menurut ulama Ahlu Sunnah iman bermakna mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota badan. Ketiga hal ini merupakan pengertian iman. Satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Iman adalah keyakinan sekaligus amal. Uyainah berkata tentang iman, "Al iman, qaulun wa 'amalun, yazidu wa yanqush". Artinya: Iman  adalah ucapan dan perbuatan, kadang meningkat dan kadang menurun.
Iman bukanlah angan-angan, melainkan apa yang tertanam dan menghujam di dalam sanubari serta dibenarkan oleh amal perbuatan. Iman bukan semata-mata teori, sebagai konsumsi otak, yang sinarnya tidak sampai menembus hati dan tidak dapat menggerakkan iradah (keinginan). Iman juga bukan sesuatu yang menjejali ingatan dengan istilah-istilah seperti: rabb, ilah, dien, ibadah, tauhid, thagut, dan sebagainya, lalu merasa bangga dan hebat karena sudah menguasai artinya. Hampir semua nash Al-Quran dan hadits selalu mengaitkan keimanan dengan amal. Allah berfirman dalam Surah Al-Ashr/ 103: 3 sebagai berikut:
 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (Q.S. Al-Ashr [103]: 3)
Dari Anas bin Malik berkata Rasulullah Saw: Tiga golongan yang merasakan manisnya iman :

  1. Mencintai Allah dan rasul-Nya, melebihi dari kecintaan kepada yang lainnya,
  2. Mencintai orang lain hanya karena Allah Swt., dan
  3.  Merasa benci kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan Allah Swt., sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam Neraka". (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Syahid Hasan Al Banna berkata: "Datangkanlah kepadaku 12 ribu orang yang benar-benar beriman, agar ku tundukkan pegunungan, ku belah samudera dan lautan, dan ku buka negeri-negeri bersama mereka". Keimanan merupakan motivator manusia untuk melakukan perbuatan. Baik buruknya manusia tergantung pada baik buruknya keimanan. Kondisi iman yang buruk akan menghasilkan perbuatan yang buruk. Kondisi iman yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik pula. Islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Keimanan itu merupakan akidah yang pokok. Amal itu merupakan syariat dan cabang-cabangnya dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu. Keimanan dan amal adalah akidah dan syariat, keduanya sambung menyambung, tidak dapat berpisah satu dengan yang lain. Keduanya seperti buah dengan pohonnya, seperti musabab dengan sabab-nya atau seperti natijah (hasil) dengan mukadimah (pendahuluannya).

Akidah dalam Kehidupan
Perlu dipahami bahwa dakwah Rasulullah Saw. selama di Mekkah ditujukan untuk menguatkan akidah. Ini menghasilkan kualitas keimanan yang sempurna yang ditunjukan oleh rasulul dan para sahabat. Pada saat itu, belum diturunkan aturan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan pribadi dan bermasyarakat, seperti mu'amalah, puasa dan sebagainya. Bahkan salat pun diturunkan Allah Swt.kepada Rasul Saw. menjelang hijrah ke Madinah. Disini disadari bahwa peranan aqidah sangat penting dalam pembinaan manusia dan masyarakat. Benar bahwa Rasul Saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, tetapi akhlak yang sempurna ini tidak akan dapat terwujud tanpa disandarkan pada landasan aqidah yang mantap. Bila aqidah sudah dapat diwujudkan dalam amal, maka dengan otomatis akhlak manusia pun akan dapat mengikutinya.
Salah satu hal yang harus diketahui dalam mengkaji aqidah adalah melakukan reinterpretasi terhadap makna syahadah. Syahadah sendiri merupakan  salah satu bagian dari rukun iman, bahkan merupakan rukun iman yang pertama. Syahadah menempati  kedudukan utama sebagai awal keislaman dan keimanan seseorang. Mengucapkan kalimat tersebut menjadikan seseorang sebagai Muslim dan mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama dengan Muslim lainnya. Syahadah merupakan pembatas (border) antara domain (wilayah) jahiliyah dengan domain Islam. Bila seseorang tidak menganut Islam walaupun ia berpendidikan atau mempunyai kedudukan tinggi, tetap saja orang tersebut tergolong dalam domain jahiliyah. Sementara itu, bila seseorang telah berislam/ ber-syahadah walaupun dia seorang yang miskin dan tidak punya apa-apa, tidak berkuasa dan tidak berkedudukan, tetap saja dia mempunyai nilai yang terhormat di sisi Allah Swt. Pada konteks ini Rasulullah Saw. bersabda, " Siapa saja yang dalam hidupnya pernah mengucapkan syahadah maka dia akan dimasukkan dalam surga".
Syahadah terdiri dari dua kategori, yaitu; syahadah tauhid dan syahadah Rasul. Syahadah tauhid mengesakan Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan lain yang menyamai-Nya. Sementara syahadah Rasul berarti mengimani Muhammad sebagai utusan Allah. Sedikitnya ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu:
1. Tasdiiqun  bil qolbi
Yaitu syahadah yang harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dimiliki maka keraguan Islam akan muncul. Unsur ini merupakan nilai terpenting dalam keimanan seseorang. Ada seorang sahabat Rasulullah yang bernama Amer bin Yassar. Ia  dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum kafir Quraisy kemudian secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya hal itu diketahui oleh Rasullullah. Beliau membolehkannya selama hatinya tidak membenarkannya. Ini membuktikan keimanan itu harus ada di dalam qalbu seorang Muslim.
2. Iqroorun bil lisan
Yaitu syahadah yang harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ ucapan. Syahadah ini menuntut pembuktian secara nyata tentang keislaman kita kepada orang lain. Makanya bagi orang yang masuk Islam, langkah pertama yang harus dilakukan  adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Setelah itu ia berhak menyandang gelar Muslim dan mempunyai kewajiban yang sama dengan Muslim lainnya. Dengan syahadah ini, akan nampak perbedaan antara seorang Muslim dengan non Muslim.
3.  Amalun bil arkan
Syahadah ini mengharuskan setiap Muslim mengaplikasikan syahadahnya dengan amal ibadah secara nyata. Syahadah bukan sekadar diucapkan dan dibenarkan oleh hati tapi sampai tingkat pelaksanaan hukum-hukum Allah baik berupa larangan maupun perintah-Nya. Oleh sebab itu, bukan seorang Muslim yang benar jika ia hanya sekadar bersyahadah saja, namun ia tidak beribadah sesuai perintah Allah Swt. Pada tingkatan inilah seseorang dinilai sebagai Muslim sejati atau tidak.
Persoalan selanjutnya adalah, bagaimana akidah memberi pengaruh dalam kehidupan seorang Muslim? Berikut ini penulis uraikan bagaimana akidah menjadi bingkai sekaligus kendali dalam setiap perilaku kaum Muslim.
Pertama, berpandangan luas. Menurut al-Maududi, orang yang memiliki aqidah benar tidak mungkin mempunyai pandangan yang sempit karena dia percaya kepada Yang Menciptakan langit dan bumi, Pemilik alam semesta, Pemilik barat dan timur, Pemberi rezeki dan Pendidik makhluk.  Dia tidak akan menemui sesuatu yang ganjil dalam alam ini karena segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah milik Allah Swt.  Tidak ada sesuatu pun dalam alam ini yang dapat menghalangi dan membatasi rasa cintanya dan kecenderungannya untuk memberi pertolongan kepada sesama manusia. Bagaimanapun pandangan seperti ini tidak mungkin ada pada orang yang menganut politeisme. Paham ini meyakini bahwa Allah Swt. mempunyai sifat serba kekurangan dan terbatas seperti manusia.
Kedua, melahirkan rasa bangga dan harga diri. Orang yang memiliki aqidah benar akan merasa bangga sebagai manusia dan mempunyai harga diri.  Dia mengetahui Allah adalah Pemilik sebenarnya dari segala kekuatan yang ada dalam alam ini, tidak ada yang memberi manfaat dan mudarat kecuali Allah, tidak ada yang menghidup dan mematikan kecuali Allah serta tidak ada yang memiliki hukum, kekuasaan dan kedaulatan kecuali Allah. Oleh karena itu, keimanannya kepada Allah menyebabkan dia tidak berhajat kepada yang lain kecuali kepada Allah. Tercabut dari dalam hatinya rasa takut kepada yang lain kecuali kepada Allah. Dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan makhluk, tidak merendahkan diri dan mengemis kepada manusia dan tidak gentar dengan kesombongan dan kebesaran manusia.
Ketiga, rendah hati kepada sesama manusia. Orang yang akidahnya benar tidak mungkin menjadi angkuh, tidak mensyukuri nikmat dan tidak terpedaya dengan kekuatan dan kemahiran yang dimilikinya. Karena dia tahu dan yakin semua itu adalah karunia Allah kepadanya.  Malah dia sadar Allah berkuasa mengambilnya kembali apabila Dia menghendaki. Manusia yang akidahnya tidak benar akan mengingkari nikmat, menyombongkan diri dan mengangkat kepala apabila memperolehi nikmat. Ia menganggap nikmat itu hasil usaha dan kecakapannya. 
Keempat, jiwa yang bersih dan beramal saleh. Orang yang berakidah secara benar yakin bahwa tidak ada jalan untuk mencapai keselamatan dan keuntungan kecuali dengan jiwa yang bersih dan beramal saleh.  Kesadaran itu timbul karena dia beriman kepada Allah yang Maha Kaya dan Maha Adil, bergantung harap segala sesuatu kepada-Nya. Sebaliknya orang yang musyrik dan kafir menghabiskan masa hidup mereka untuk angan-angan palsu.  Di antara mereka ada yang berkata: "Sesungguhnya anak Allah telah menjadi penebusan dosa-dosa kita kepada Bapanya." Ada juga yang berkata: "Kami adalah putera Allah dan kekasihnya, maka Ia tidak akan menyiksa kami karena dosa kami." Ada juga yang berkata: "Kami akan meminta syafaat pada sisi Allah kepada pembesar kami dan orang yang bertaqwa di kalangan kami." Ada juga di kalangan mereka yang mempersembahkan nazar dan korban kepada tuhan mereka dan menganggap dengan cara demikian mereka telah mendapat izin untuk berbuat sekehendak hati mereka.
Kelima, tidak berputus asa dan hilang harapan. Orang yang akidahnya benar tidak mudah dihinggapi rasa putus asa dan hilang harapan dalam setiap keadaan. lman memberikan ketenteraman yang luar biasa pada hatinya. lman mengisi hatinya dengan ketenangan dan harapan meskipun dia dihina di dunia dan diusir dari semua pintu kehidupan sehingga kelihatan jalan hidupnya sempit dan seluruh saluran materi terputus darinya.  Dia yakin Allah tidak pernah terlena dan tidak membiarkan hidupnya terlantar.  Oleh karena itu, ia senantiasa mencurahkan tenaganya dengan bertawakkal kepada Allah dan meminta pertolongan daripada-Nya dalam semua urusan. Ketenteraman hati dan ketenangan iiwa seperti ini tidak mungkin dimiliki kecuali dengan aqidah.  Orang kafir, musyrik dan mulhid (atheis) mempunyai hati yang lemah.  Mereka bersandar kepada kekuatan yang terbatas.  Maka alangkah cepatnya mereka dihinggapi rasa putus asa ketika menghadapi kesukaran.  Kadangkala menyebabkan mereka membunuh diri mereka sendiri.
Keenam, memiliki hati dan pendirian yang teguh. Akidah yang benar mendidik manusia dengan kekuatan yang besar, bulat, tekad, berani, sabar, tabah dan tawakkal ketika menghadapi perkara besar di dunia demi mengharapkan keridhaan Allah.  Dia yakin kekuatan Allah yang memiliki langit dan bumi menyokongnya dan membimbingnya dalam setiap aspek kehidupan.  Oleh karena itu, hatinya menjadi lebih teguh, dan tabah. Hampir tidak ada suatu musibah dalam dunia yang dapat melawan tekad yang telah dibuatnya. 
Ketujuh, berani dan tabah.  Akidah yang benar akan menjadikan manusia berani dan mengisi hatinya dengan ketabahan.  Ada dua perkara yang menjadikan seseorang manusia itu pengecut dan lemah semangat.  Pertama, cinta pada diri, harta dan keluarganya.  Kedua, percaya bahwa ada yang lain selain Allah yang dapat mematikan manusia dan dia tidak dapat menolak kematian itu dengan beragam tipu daya. Akidah yang benar dapat mencabut kedua persoalan itu dari hati manusia dan sekaligus membersihkannya. lman dapat mencabut yang pertama dengan menjadikan dia yakin bahwa Allah adalah satu-satunya Pemilik diri, harta dan keluarganya. lman menjadikan dia sedia  berkorban untuk jalan dan keridhaan Allah.  Dia rela berkorban dengan segala sesuatu yang ada padanya dengan sesuatu yang mahal maupun murah. lman juga dapat mencabut persoalan kedua dengan menanamkan ke dalam iiwa manusia bahwa tidak ada seorang manusia atau seekor binatang pun yang dapat merampas hidupnya.
Kedelapan, menjauhi perbuatan hina. Iman kepada Allah mengangkat derajat manusia dan menimbulkan dalam dirinya sifat menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat merendahkan martabatnya.  Dia juga merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak memerlukan pemberian orang, menyucikan hatinya dari sifat tamak, rakus, dengki, rendah diri dan segala sifat buruk serta kecenderungan yang hina.  Tidak terlintas dalam hatinya memilih jalan yang keji untuk mencapai kejayaan karena dia yakin rezeki berada di tangan Allah.  Dia yakin Allah melimpahkan rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya dan menentukan kepada orang yang dikehendaki-Nya.  Tidak ada kemuliaan, kekuatan, kemasyhuran, kekuasaan, pengaruh dan kemenangan melainkan di tangan Allah.  Manusia wajib berusaha dengan cara yang mulia menurut kemampuannya.  Kejayaan atau kegagalan bergantung kepada Allah.  Tidak ada yang dapat menahan apa yang diberi-Nya dan tidak ada yang dapat memberi apa yang ditahan-Nya.
Sembilan,  terikat dan patuh pada peraturan Allah. Akidah yang benar akan menjadikan manusia terikat dan patuh pada undang-undang Allah.  Orang yang beriman yakin bahwa Allah mengetahui segala sesuatu.  Allah lebih dekat kepada diri mereka daripada urat leher mereka sendiri. Orang beriman yakin apabila mereka melakukan sesuatu perbuatan di dalam gelap ataupun terang, Allah tetap mengetahui.  Apabila terlintas dalam hatinya sesuatu yang tidak baik, Allah tetap mengetahui.  Walaupun dia dapat menyembunyikan perbuatannya daripada orang lain, dia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah.  Walaupun dia dapat melepaskan dirinya dari berbagai kekuatan, dia tidak dapat melepaskan dirinya dari Allah.  Semakin kukuh akidah ini melekat dalam jiwa seseorang, semakin tekun ia mengikuti hukum Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia bergegas menuju kebajikan dan mengerjakan apa yang diperintah oleh Allah dimanapun berada.  Di hadapan matanya senantiasa terbayang pengadilan tinggi dan tidak ada orang yang dapat melepaskan diri daripada pemeriksaan-Nya. 

Penutup
Akidah adalah sumber energi jiwa yang senantiasa memberikan kita kekuatan untuk bergerak menyemai kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam zaman kehidupan. Atau bergerak mencegah kejahatan, kebatilan dan kerusakan dipermukaan bumi. Akidah adalah gelora yang memberi inspirasi kepada pikiran-pikiran kita untuk mempertajam bashirah (mata batin).  Akidah adalah cahaya yang menerangi dan melapangkan jiwa kita untuk "taqwa". Akidah adalah bekal yang menjalar di seluruh bagian tubuh kita untuk melahirkan "harakah". Akidah menentramkan perasaan, menguatkan tekad dan menggerakkan raga kita. Akidah mengubah individu menjadi baik, dan kebaikan individu menjalar dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat menjadi erat dan dekat.  Dengan akidah, yang kaya diantara mereka menjadi dermawan, yang miskin diantara mereka adalah "iffah" (menjaga kehormatan dan harga diri), yang berkuasa diantara mereka adalah adil, yang ulama diantara mereka adalah taqwa, yang kuat diantara mereka adalah penyayang, yang pintar diantara mereka adalah rendah hati, yang bodoh diantara mereka adalah pembelajar.


SUMBER BACAAN

Al-Math,  Muhammad, Faiz. 1100 Hadits Terpilih; Sinar Ajaran Baru Muhammad. Jakarta: Gema Insani Press, 1991.
Audah, Ali. Konkordansi al-Qur'an; Panduan Kata dalam Mencari Ayat al-Qur'an. Bandung: Mizan, 1997.
Al-Bukhari, Muhammad Ismail. Shahih al-Bukhari. T.Tp: Dar wa Mathabi' al-Syab, T.Th.
Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: 1994.
Ghazali, Muhammad. Akhlak Seorang Muslim, (terj. & edit.). Moh. Rifai dari judul asli Khuluq al-Muslim. Semarang: Wicaksana, 1993.
Kurdi,  M. Amin. Tanwir al-Qulub Fi Mualati Alam al-Ghuyub. Beirut: Dar al Fikr, tt.
Majah, Ibnu. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar al Fikr, t.t.
Muslim, Ibn Hajjaj. Shahih Muslim. Kairo: al-Halabi wa Auladuh, T.Th.
Tibi, Bassam. The Challenge of Fundamentalism; Political Islam and the New World Disorder. California: University of California Press, 1998.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar