Kamis, 21 Maret 2013

Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia





Pada bulan Mei-Juni tahun 1990 tingginya inflasi sebesar 1,72%. Kenaikan ini terus berlanjut hingga mencapai 3,19% untuk kelompok aneka barang dan jasa serta 2,68% untuk kelompok perumahan, tingginya kenaikan harga tersebut disebabkan meningkatnya tarif angkutan darat dan udara,serta naiknya harga semen. Sampai dengan akhir akhir Desember 1990  laju inflasi telah mencapai 9,53%,  dan tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai 9,00%.
Pada akhir Juni 1991 tingkat inflasi nasional yang terjadi adalah sebesar 3,60% , sedangkan laju inflasi untuk tahun 1991 adalah sebesar 9,52% serta tingkat pertumbuhan ekonominya mengalami penurunan, menjadi 8,92. Untuk mencegah inflasi pemerintah mulai melakukan pengontrolan terhadap harga-harga barang dan jasa. Usaha ini tampak sukses dengan munculnya inflasi yang rendah sebesar 4,94% pada tahun 1992.
Memasuki tahun 1993 pengontrolan harga yang ketat tidak dapat dipertahankan, hal ini terbukti dengan meningkatnya kembali laju inflasi yaitu sebesar 9,77%. Dan tingkat pertumbuhan ekonomi semakin menurun menjadi 7,22%.
Pada tahun berikutnya tingkat pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan mencapai 7,53% di tahun 1994. Dan pada tahun 1995-1996 tingkat pertumbuhan ekonominya sama dan mengalami kenaikan sebesar 8,21%. Sedangkan tingkat laju inflasi pemerintah mengalami penurunan secara terus menerus pada tahun 1994-1996 , dimana tingkat inflasi masing-masing adalah 9,24%, 8,64%, 6,47%. Walaupun tingkat harga umum meningkat dari tahun ke tahun selama 3 tahun tersebut.
Awal tahun 1997 laju inflasi di Indonesia masih berada dibawah 10%. Pada akhir tahun 1997 kenaikan barang-barang dan jasa sudah terlihat, disebabkan oleh menurunnya nilai tukar rupiah, juga disebabkan oleh faktor musiman, sehingga laju inflasi mencapai 11,03%. Sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi menurun drastis sehingga mencapai 4,70%
Pada tahun 1998 merupakan tahun yang kelam bagi perekonomian Indonesia, disini laju inflasi 77,63%. Serta tingkat pertumbuhan ekonomi semakin menurun mencapai -13,03. Ini merupakan dampak dari merosotnya nilai tukar rupiah terhadap valuta asing dan sosial politik yang tidak aman, sehingga mengakibatkan harga-harga barang dan jasa terus meningkat tajam sampai akhir tahun 1998.
            Memasuki tahun 1999 tingkat pertumbuhan ekonomi sedikit meningkat sebesar 0,8%, sedangkan laju inflasi menjadi 2,01% disebabkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah di pasar valuta asing dan juga dapat dikendalikannya harga-harga barang dan jasa di pasar oleh pemerintah. Dilanjutkan seiring melonjaknya kenaikan pada tahun 2000, laju inflasi menjadi 9,35%. Dan tingkat pertumbuha meningkat, sehingga mencapai 4,9%. Peningkatan laju inflasi terkait dengan serangkaian kebijakan pemerintah seperti pengurangan subsidi BBM, cukai rokok, dan adanya peningkatan barang dan jasa. Akibat kebijakan pemerintah laju inflasi meningkat sampai tahun 2001 yaitu 12,55%. Faktor lain penyebab naiknya laju inflasi tahun 2001 adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM pada pertengahan Juni 2001. Sedangkan pertumbuhan ekonomi menjadi 3,64%.
            Pada tahun 2002 inflasi  di Indonesia menurun menjadi 10,03%. Penurunan inflasi disebabkan oleh menguatnya nilai tukar rupiah dan juga dipengaruhi oleh membaiknya ekpektasi inflasi karena harapan membaiknya kondisi ekonomi,sehingga tingkat pertumbuhannya mencapai 4,50%. Selanjutnya pada tahun 2003 laju inflasi di Indonesia malah menurun dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 5,1%. Disamping sudah membaiknya perekonomian Indonesia, penurunan ini juga dipengaruhi oleh membaiknya sektor rill dan adanya kepercayaan dari para investor terhadap Indonesia. Tahun 2004 naiknya inflasi dengan angka 6,4%. Dimana pada tahun 2003-2004 pertumbuhan ekonomi semakin meningkat,masing-masing pertumbuhannya mencapai 4,72%, 5,03%. Meningkatnya laju inflasi pada tahun 2005 menjadi 17,1%. Tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005-2007 yang dikelola pemerintahan SBY-JK relatif lebih baik dibanding pemerintahan selama era reformasi, yang masing-masing tingkat pertumbuhannya mencapai 5,69%, 5,50%, 6,35%.
Yang kemudian pada tahun 2006-2007 laju inflasi menurun masing-masing menjadi 6,60% dan 6,59%.  
Pada tahun 2008 perekonomian dunia diguncangkan dengan adanya krisis global, namun adanya krisis global ini ternyata tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami penurunan yang cukup berarti seperti saat periode krisis ekonomi, pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,02%, seta laju inflasi meningkat sebesar 11,06%.
            Dampak adanya krisis global ini justru baru dirasakan pada tahun 2009. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 ternyata mengalami penurunan yang lebih besar jika dibandingkan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008. Pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,63%, serta laju inflasi makin menurun sebesar 2,78%, jika dibandingkan tahun 2008 pertumbuhan ekonomi tahun 2009   penurunan sebesar 1,39 %. Pada tahun 2010 laju inflasi makin meningkat sebesar 6,96%
            Kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2010 kembali menunjukkan kondisi yang cukup baik, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 tumbuh 6,2 %, meningkat dibandingkan tahun 2009 dan mampu lebih tinggi dari tahun 2008. Melihat kinerja dan stabilitas perekonomian yang cukup bagus pada tahun 2010 memberikan suatu harapan bahwa di tahun selanjutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan dan mengalami peningkatan.

Kebijakan pemerintah Indonesia tentang pertumbuhan ekonomi:

Melalui kebijakan anggaran berimbang, Pemerintahan Presiden Soeharto juga dinilai berhasil menekan inflasi dibawah 10%, rata-rata defisit neraca berjalan 2,5% dan mempertahankan cadangan devisa mendekati jumlah kebutuhan impor kurang lebih 5 bulan. Selain kebijakan anggaran berimbang, pemerintahan Presiden Soeharto juga mempertahankan kebijakan moneter secara hati-hati. Kebijakan tersebut dilaksanakan untuk mencapai sasaran stabilitas ekonomi makro, yaitu terkendalinya inflasi dan defisit neraca berjalan. Kebijakan harga bersubsidi BBM pada masa Soeharto pada dasarnya memberikan subsidi harga yang relatif lebih besar terhadap minyak tanah, mengingat minyak tanah adalah bahan bakar rumah tangga sehingga subsidi harga diharapkan dapat meringankan beban pengeluaran keluarga berpendapatan rendah.  Sebelum terjadi krisis ekonomi, Indonesia telah mencapai kemajuan pesat dalam berbagai aspek pembangunan manusia. Sejak tahun 1975 hingga pertengahan tahun 1990-an, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus meningkat sampai terjadinya penurunan yang sangat tajam pada tahun 1998.   Krisis ekonomi dan berbagai kebijakan pemulihan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memimpin lebih dinamis dan fluktuatif harga bahan makanan dan input pertanian sejak pertengahan tahun 1997. Presiden B.J Habibie dilantik sebagai Presiden R.I pada tanggal 21 Mei 1998 atau beberapa hari setelah kerusuhan tanggal 12 Mei 1998 dan setelah Pemerintah memutuskan menurunkan harga BBM pada tanggal 15 Mei 1998. Pada masa pemerintahanan Presiden B.J Habibie pemerintah tidak menaikkan harga bersubsidi BBM.
Memasuki tahun anggaran 1999 tepatnya periode April sampai 20 Oktober 1999, pemerintah tidak menaikkan harga bersubsidi BBM. Kondisi ini memberikan kelanjutan tekanan fiskal pada pemerintahan berikutnya yaitu pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.  Pada masa Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid tercatat 2 (dua) kali kenaikan harga BBM yaitu pada tanggal 1 Oktober 2000 dan tanggal 16 Juni 2001.  Pada masa Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri tercatat 2 (dua) kali kenaikan harga bersubsidi BBM yaitu pada tanggal 17 Januari  2002 dan tanggal 2 Januari 2003. Pada pemerintahan SBY kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi negara Indonesia, atau menaikkan harga BBM. Kebijakan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005, ternyata berimbas pada situasi perekonomian tahun-tahun berikutnya. Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintahyang berfokus pada disiplin fiska yang tinggi dan pengurangan utang Negara. Perkembangan yang terjadi dalam 5 tahun terakhir membawa perubahan yang signifikan terhadap persepsi dunia mengenai Indonesia. Kondisi perekonomian pada masa pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.




       


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar