Rabu, 10 Juli 2013

Makalah Tafsir Tentang Alam


BAB II
PEMBAHASAN AYAT
A.    Teks dan Terjemahan

uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ

Dialah yang menciptakan untukmu segala yang ada di muka bumi; kemudian ia menciptakan langit dan disempurnakan-Nya menjadi tujuh dan Dia atas atas segala sesuatu Maha Mengetahui

B.     Makna  Mufradat
uqtGó$# maksudnya adalah bermaksud menciptakan langit. istawa yakni i'tadala ;lurus dan lelaki yang telah mencapai kematangan atau 40 tahun, dan istawa ila as sama yakni  bermakna shoida; naik,-amida; menuju,-qosoda; bermaksud atau bermakna aqbala: menghadap atau bermakna istaula; menguasai
£`ßg1§q|¡sù maksudnya adalah dia menciptakan langit tujuh lapis.
;Nºuq»yJy ìö7y ‎‎"Sab'a Samawat" berarti bahwa Allah membentangkan langit yang berlapis ‎tujuh. Ketujuh langit itu diciptakan berdasarkan pengelolaan dan pengaturan yang sangat cermat, yang ‎Dia ciptakan untuk kepentingan manusia. Tujuh langit, yang berdasarkan ‎ayat-ayat lain, langit yang dapat disaksikan oleh mata manusia ini disebut ‎sebagai Sama' udunya, artinya langit yang terendah

C.    Munasabah Ayat
            Munasabah Q.S  Al-Baqarah ayat 29 dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 28 adalah ini ia mengimbau makhluk-Nya agar meninjau perasaan mereka sendiri yang subjektif. Ia telah menciptakan kita menjadi ada. Rahasia hidup dan mati ada ditangan-Nya. Kita dari Dia, dan kepada-Nya kita kembali. Lihatlah ke sekitar kita dan kita akan mengerti martabat kita sendiri: itu dari Dia. Kedalam dan keluasan ruang angkasa diatas dan disekeliling kita yang tak terduga, akan sangat membingungkan kita. Itu adalah sebagian dari rencana-Nya yang begitu teratur dan sempurna, karena ilmun-Nya (tidak seperti ilmu kita) Maha luas.[1] Sedangkan munasabah surah Al-Baqarah ayat 30 bahwa alam seah mesta yang diciptakan semata-mata diperuntukkan untuk manusia dan Allah SWT hendak menjadikan manusia itu untuk menjadi khalifah di bumi untuk menjaga dan memelihara apa yang ada di bumi. Namun malaikat berkata mengapa engkau menciptakan khalifah yang hanya akan membuat kerusakan sedangkan kami selalu memuji dan bertasbih kepada mu, namun Allah SWT mengatakan sesungguhnya Aku mengetahui apa yang engkau ketahui, jadi pernyataan tersebut bisa kita simpulkan bahwa alam semesta memang diciptkan untuk manusia karena manusia memiliki potensi untuk menerima amanah itu karena manusia memiliki akal, dengan akal itu manusia dapat mengelolah dan menjaga alam semesta ini.
D.    Kandungan Ayat
            Dalam tafsir Ibnu Khatsir Allah memulai dengan menciptakan bumi, baru kemudian menciptakan langit tujuh lapis. ( Hal ini berdasarkan pendapat bahwa huruf ‘athaf (NèO) meng’athafkan fi’il kepada fi’il, yaitu meng’athafkan istawaa kepada khalaqa). Begitulah awal mula mendirikan bangunan. Dimulailah dari membangun dasar (pondasi)nya baru kemudian bagian atasnya.
Para ahli tafsir telah menjelaskan dengan gambling tentang masalah ini sebagaimana akan kami sebutkan, insya Allah. Adapun firman Allah Ta’ala: ÷LäêRr&uä x©r& $¸)ù=yz ÏQr& âä!$uK¡¡9$# 4 $yg8oYt/ ÇËÐÈ   yìsùu $ygs3ôJy $yg1§q|¡sù ÇËÑÈ   |·sÜøîr&ur $ygn=øs9 ylt÷zr&ur $yg9ptéÏ ÇËÒÈ   uÚöF{$#ur y÷èt/ y7Ï9ºsŒ !$yg8ymyŠ ÇÌÉÈ   ylt÷zr& $pk÷]ÏB $yduä!$tB $yg8tãötBur ÇÌÊÈ   tA$t7Ågø:$#ur $yg9yör& ÇÌËÈ   $Yè»tGtB ö/ä3©9 ö/ä3ÏJ»yè÷RL{ur ÇÌÌÈ  
27. (Wahai golongan Yang ingkarkan kebangkitan hidup semula!) Kamukah Yang sukar diciptakan atau langit? Tuhan telah membinanya (dengan Kukuh)!
28. ia telah meninggikan bangunan langit itu lalu menyempurnaKannya,
29. dan ia menjadikan malamnya gelap-gelita, serta menjadikan siangnya terang-benderang. sesudah itu
30. dan bumi dihamparkannya (untuk kemudahan penduduknya), -
31. ia mengeluarkan dari bumi itu: airnya dan tumbuh-tumbuhannya;
32. dan gunung-ganang pula dikukuhkan letaknya (di bumi, sebagai pancang pasak Yang menetapnya);
33. (semuanya itu) untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternak kamu.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata (summa) disini (dalam kalimat (summatawa’ ilassamaai) fungsinya adalah ‘athaf khabar kepada ipkhabar (artinya, pengabaran penciptaan bumi di dahulukan daripada pengabaran penciptaan langit. Adapun penciptaannya sendiri, mungkin langit terlebih dahulu atau bumi), bukan ‘athaf fi’il kepada fi’il. Demikian yang diriwayatkan oleh ‘Ali bin Abi Thalhah dari Abdullah bin ‘Abbas.

Dia’lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.
Mujahid mengatakan: “Allah menciptakan bumi sebelum langit. Dan setelah menciptkan bumi, membumbunglah asap darinya (bumi), dan itulah makna firman Allah:  “Kemudian Dia bermaksud (menciptakan) langit dan langit itu masih merupakan asap.” (Q.S Fushshilat: 11)

Lalu dijadikan-Nya tujuh langit,” Mujahid berkata: “Sebagian langit berada di atas sebagian lainnya. Dan sebagian bumi berada dibawah sebagian lainnya.”

            Ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit, sebagiamana firman Allah dalam surat Fushshilat diatas. Dengan demikian ayat-ayat ini merupakan dalil bahwa bumi diciptakan lebih dulu daripada langit. Dalam Shahiih al-Bukhari disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas ditanya tentang masalah ini. Beliau menjawab bahwa bumi diciptakan sebelum langit. Namun bumi baru dihamparkan setelah langit diciptakan.[2]

            Demikian pula jawaban beberapa orang ulama tafsir terdahulu maupun sekarang. Kami telah menjelaskannya lebih terperinci dalam tafsir surat an-Naazi’aat. Kesimpulannya, penghamparan bumi ini telah ditafsirkan dengan firman Allah:
uÚöF{$#ur y÷èt/ y7Ï9ºsŒ !$yg8ymyŠ ÇÌÉÈ   ylt÷zr& $pk÷]ÏB $yduä!$tB $yg8tãötBur ÇÌÊÈ   tA$t7Ågø:$#ur $yg9yör& ÇÌËÈ  
Dan bumi setelah itu dihamparkan-Nya, ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh.” (Q.S An-Naazi’aat:30-32)
            Penghamparan dalam ayat ini ditafsirkan dengan dikeluarkannya apa-apa yang sebelumnya disimpan dari bentuk potensi kepada pemanfaatannya. Setelah disempurnakannya bentuk makhluk di bumi kemudian dilangit, barulah bumi dihamparkan. Lalu dikeluarkanlah apa-apa yang sebelumnya tersimpan di dalamnya, berupa air. Lalu tumbuhlah tanam-tanaman dengan berbagai macam jenisnya, sifatnya, warna dan bentuknya.















BAB III
PEMBAHASAN
A.    Makna dari QS.AL-BAQARAH : 29
           Menurut tafsir Zhilalil Qur’an: Bahwa banyak ahli ilmu kalam di sini yang membicarakan penciptaan bumi dan langit, yang membahas keadaan sebelum dan sesudahnya. Mereka membicarakan istiwa’( pada lafal istawaa) dan taswiyah (pada lafal sawwaa), dan mereka lupa bahwa qablu ‘sebelum’ dan ba’du ‘sesudah’ adalah dua istilah bahasa yang mendekatkan gambaran yang tak terbatas kepada persepsi manusia yang yang terbatas dan tidak lebih dari itu.
         Dan, tidaklah terjadi perdebatan ilmu kalam di antara para ulama muslimin seputar ungkapan-ungkapan Al-Qur’an ini melainkan sebagai bencana yang ditimbulkan oleh filsafat Yunani dan pembahasan Teologis di kalangan kaum Yahudi dan Nasrani, ketika telah bercampur aduk dengan pemikiran Arabiyah yang murni dan pemikiran islam yang jernih. Dan, kita sekarang tidak perlu terlibat di dalam bencana ini, karena akan dapat merusak keindahan akidah dan keindahan Al-Qur’an dengan persoalan-persoalan ilmu kalam.
       Karena itu, hendaklah kita ringkaskan saja apa yang ada di balik ungkapan-ungkapan ini, yang berupa hakikat yang mengesankan tentang penciptaan segala sesuatu di bumi untuk seluruh manusia, serta petunjuk hakikat ini atas tujuan diwujudkannya manusia, peranannya yang besar di dunia, nilainya di dalam timbangan Allahm dan apa yang ada dibalik semua ini yang berupa pengakuan tentang nilai manusia menurut persepsiIslam, dan di bawah tatanan ,asyaraat Islam.
Dialah yang menjadikan segala yang ada di bumi untut kamu…
            Perkataan “untuk kamu” memiliki makna yang dalam dan memiliki kesan yang dalam pula. Ini merupakan kata pasti yang menetapkan bahwa Allah menciptakan manusia ini untuk urusan yang besar. Diciptakannya mereka untuk menjadi khalifah di bumi, menguasainya dan mengelolahnya. Mereka adalah makhluk tertinggi di dalam kerjaan yang terhampara luas ini, dan merekalah majikan pertama dengan warisan yang banyak ini, pernannya didalam berinofasi dan mengembangkannya merupakan peranan utama. Mereka adalah sayyid (tuan, majiakan) bagi bumi serta majikan bagi alat dan sarana. Mereka bukan alat bagi alat itu sebagaimana yang terjadi dalam dunia materialis sekarang. Dan, mereka tidak mengikuti perkembangan yang ditimbulkan oleh alat-alat itu dalam hubungan antara manusia dan peraturan yang dibuatnya, unkuk sebagaimana anggapan para pendukung materialisme yang buta hati itu, yang melemahkan peranan dan kedudukan manusia, yang menjadikan manusia harus mengikuti alat yang keras itu, padahal mereka adalah sayyid (tuan, majikan) yang mulia.
        Setiap nilai material (benda) tidak boleh mengalahkan nilai manusia, tidak boleh merendahkannya, tidak boleh mengecilkannya dan tidak boleh mengunggulinya. Dan, segala sesuatu yang bertujuan mengecilkan nilai manusia, bagaiamana pun wujud kelebihan materi itu, adalah tujuan yang bertentangan dengan diadakannya manusia itu sendiri. Maka, kemualiaan manusia itulah yang pertama, ketinggian manusia itulah yang pertama baru sesudah itu datanglah nilai-nilai kebendaan yang tunduk mengikutinya.
         Nikmat yang diberikan kepada manusia disini mengingkari kekafiran mereka terhadap nikmat itu bukan semata-mata pemberian kenikmatan dengan segala sesuatu yang ada dibumi saja. Akan tetapi, lebih dari itu adalah penguasaan mereka atas segala sesuatu yang ada dibum itu, dan diberinya mereka nilai yang lebih tinggi dari pada nilai-nilai kebendaan yang dikandung oleh bumi ini. Itulah nikmat pengangkatanny sebagai khalifah dan kehormatan yang melebihi nikmat pemilikan dan pemanfaatan yang besar ini.
Kemudian dia istiwa’ (berkehendak menuju) kelangit, lalu dia sawwa (menciptakan) tujuh langit.”
        Tidak ada lapangan untuk memperdebatkan makna istiwa’ karena ia hanya lambing kekuasaan dan kehendak untuk menciptakan serta membuat. Demikian pula tidak ada lapangan untuk meperbedakan makna langit tujuh yang dimaksudkan disini, tidak perlu meperbedakan batas-batas bentuk dan jangkauannya. Kita cukupkan dengan tujuan umum nash ini, dan pengingkaranya terhadap ke khalifah manusia kepada sangan Maha Pencipta, yang Maha Memelihara yang berkuasa atas alam ini, yang telah menundukkan bumi dengan segala isinya, dan mengatur langit dengan segala sesuatu untuk menjadikan kehidupan di  bumi dapat berjalan dengan menyenangkan.
Dan, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
      Karena Dia pencipta segala sesuatu, yang mengatur segala sesuatu. Dan, jangkauan penghubungnya yang menyeluruh ini sama dengan jangkauan-Nya yang mengaturnya. Hal ini mendorong keimanan Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Esa, memoifasi beribadah kepada sang Maha Pengatur Yang Esa dan beribadah kepada Yang Maha Meberi rezeki dan Maha Memberi nikmat saja merupakan peng-akuan yang indah terhadap-Nya.
B.     Pelestarian Alam Menurut Islam
Allah Swt menyatakan  dalam  Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30 bahwa manusia  diciptakan untuk menjadi khalifah. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas dan tanggung jawab untuk ikut merawat, memelihara dan melestarikan berbagai fasilitas alam yang telah disediakan oleh Allah Swt untuk manusia. Pendidikan lingkungan telah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Allah Swt berfirman tentang dimensi alam semesta dalam Qs. Al-Hadid: 4, “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat ini Allah memaparkan bahwa secara makro alam semesta berpusat pada dua tempat, yaitu langit dan bumi. Hanya saja dalam wacana alam, situasi di bumi menjadi obyek dominan. Oleh karena itu, Ayat Al-Quran dalam bagian lain mengilustrasikan kondisi bumi dan segala isinya dengan corak dan keberagaman yang ada.
Allah menggariskan takdirNya atas bumi dengan fasilitas terbaik bagi semua penghuni bumi. DiciptakanNya laut yang sangat luas dengan segala kekayaan di dalamnya. Air hujan menghidupkan bumi setelah masa keringnya. Belum cukup dengan semua itu, Allah memperindah kehidupan di muka bumi dengan menciptakan hewan, tumbuhan, angin, dan awan di angkasa, sebagai teman hidup manusia.
Setelah selesai dengan segala penciptaanNya, Allah memberikan sebuah titipan amanat kepada manusia dalam Qs. Al-A’raf: 56, “Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi ini setelah Allah memperbaikinya”.
Manusia diminta untuk menjaga agar apa yang menjadi kekayaan alam tersebut tetap lestari dan terus dapat dinikmati oleh manusia. Caranya dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan alam serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak alam semesta ini.



Adapun, kami telah merampung beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk melestarikan alam menurut perspektif Islam :
1.      Tidak mengganggu kehidupan liar tanpa alasan yang benar
Kita sebagai seorang muslim, seharusnya selalu menjaga keamanan dan kedamaian di bumi. Baik itu untuk sesame manusia, maupun kepada makhluk-makhluk Allah lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Kita tidak boleh mengganggu kehidupan liar yang ada di alam ini tanpa alasan yang benar dikarenakan sudah pasti akan menimbulkan masalah pada akhirnya bagi kelangsungan hidup manusia.
2.      Islam mengajarkan pemeluknya untuk memperlakukan alam dengan ramah
Dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda, “Siapa yang mengolah tanah mati, dia mendapatkan pahala. Apapun yang dimakan oleh makhluk hidup dari hasil olahannya bernilai sedekah bagi dia.”(Shahih Ibnu Hibban).
Betapa sungguh Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu bersikap ramah untuk memperlakukan apa saja yang ada di Alam ini. Apabila kita menerapkan hal ini dalam kehidupan kita, maka Allah akan membalas kebaikan kita dengan sesuatu yang lebih di akhirat kelak.
3.      Memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan alam serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak alam semesta ini.
4.      Tidak melakukan explorasi alam secara berlebihan.
Allah memperbolehkan manusia untuk memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk memenuhi segala kebutuhan manusia tentunya. Namun yang perlu di garis bawahi disini adalah pemanfaatan yang terkontrol, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang lalai dan rakus terhadap sesuatu misal dalam memanfaatkan alam yang secara berlebihan dengan tidak memperhatikan situasi dan kondisi alam.
5.      Nabi Muhammad saw menganjurkan umatnya untuk mengolah tanah, tidak membiarkannya gersang.
Islam juga mengatur masalah pemanfaatan lahan yang dimana bagi setiap pemilik lahan pastinya harus menerapkan hal ini, yaitu tidak mengelantarkan lahan. Seharusnya bila seorang pemilik lahan yang mempunyai lahan yang terbengkalai mungkin dikarenakan tidak adanya kesempatan dalam memanfaatkannya atau si pemilik lahan belum mengetahui pasti hukum mengelantarkan lahan, maka perlu untuk mengetahui bahwa bila mengelantarkan lahan adalah  berdosa karena sama saja dia telah melakukan sebuah kerusakan dengan tidak memanfaatkannya secara maksimal.
6.      Tidak membuang sampah pada sembarang tempat.
Dalam sabda Rasulullah SAW: ”Kebersihan Sebagian Dari Iman”, ini adalah penegasan dalam al-Hadist. Maka dari itulah seorang muslim diwajibkan untuk selalu menjaga kebersihan lahir ataupun batin. Tentunya bila kita membuang sampah pada sembarang tempat maka dampaknya pasti akan merusak alam atau linkungan yang ujung-ujungnya juga menjadi dampak buruk bagi manusia. Seperti bila selalu membuang sampah di sungai, maka akan terjadi pencemaran air dan bisa juga terjadi banjir bandang. Oleh karena itu, kita sebagai khalifah di bumi harus bisa selalu menjaga kebersihan untuk memenuhi amanat yang diberikan Allah kepada manusia untuk menjaga alam semesta ini.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas yang berjudul Ayat-ayat tentang Penciptaan Alam dalam surah Al-Baqarah ayat 28 sampai 29, kita dapat menyimpulkan bahwa :
1.      Manusia lebih mulia dibanding seluruh yang ada di bumi dan langit, bahkan ‎ia merupakan tujuan penciptaan semua itu. ‎
2.      Alam semesta ini tidaklah tercipta dengan sendirinya, namun ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.
3.      Alam semesta ini berpusat pada dua tempat, yaitu langit dan bumi.
4.      Segala apa yang diciptakan oleh Allah Swt baik itu yang meliputi sesuatu yang ada di bumi, mulai dari timur ke barat, selatan keutara, darat dan laut bumi dan langit pasti memiliki maksud dan manfaat bagi manusia.

B.     Saran
Allah Menjadikan manusia sebagai khalifah di dunia yang merupakan sebuah amanah yang sangat besar, oleh karena itu diharapkan kita sebagai manusia yang memiliki akal fikiran untuk dapat menjalankan amanah ini yaitu dengan menjaga dan mengelolah alam semesta dengan sebaik-baiknya.







DAFTAR PUSTAKA
Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. Al Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsir jilid 15. Jakarta: Pustaka.
Shihab, M. Quraish. 2000. Al Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Quran. Jakarta. Lentera Hati.
Quthb, Sayyid. 2000. Tafsir Fi Zhilali Quran jilid 1. Jakarta: Darusy-Syuruq, Beruit.




[1] Abdullah Yusuf Ali, Qur’an Terjemahan dan Tafsirnya, Cetakan 1. Juz I s/d XV, Jakarta:Pustaka Firdaus,1993 Hal. 23
[2] Tafsiir ath-thabari(I/436).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar